Pada pertengahan tahun
1970-an ada program kerjasama antara Lembaga Ilmu Pngetahuan Indonesia (LIPI)
dengan Koninklijk Instituut voor Land-, Taal- en Volkenkunde (KITLV) untuk
menerbitkan seri terjemahan karangan-karangan Belanda ke dalam bahasa
Indonesia. Panitianya diketuai oleh Koentjaraningrat, seorang guru besar
anthropologi dari Universitas Indonesia, Jakarta. Sayangnya, selama program ini
berlangsung hanya dua karangan dari seorang penulis Belanda, yaitu L. Adam,
mengenai Minahasa yang sempat diterjemahkan. Dua karangan itu masing-masing
terbit dengan judul Pemerintahan di Minahasa (Jakarta: Bhratara, 1975) dengan
kata pengantar oleh F.S. Watuseke dan Adat Istiadat Sukubangsa Minahasa
(Jakarta: Bhratara, 1976) dengan kata pengantar oleh G.M.A. Inkiriwang. Konon,
masalah dana menghentikan gerak langkah program ini. Satu hal yang patut
disayangkan. Edisi asli berbahasa Belanda kedua karangan tersebut sudah terbit
dalam BKI 81 pada tahun 1925 dalam seri tulisan bertema “Uit en over de
Minahasa”. Dalam serial ini terdapat dua tulisan mengenai misi dan gereja di
Minahasa, masing-masing oleh J.W. Gunning, “De protestantsche zending in de
Minahasa” (BKI 80, 1924) dan oleh A.J. van Aernsbergen, “De Katholieke kerk en
hare missie in de Minahasa” (BKI 81, 1925). Selain itu pula, masih dalam serial
“Uit en over Minahasa”, ada satu tulisan mengenai bahasa-bahasa di Minahasa oleh
N. Adriani berjudul “De Minahasische talen” (BKI 81, 1925).
Dekade 1980-an merupakan dekade kebangkitan Minahasalogi. Di lingkungan
universitas dan sekolah tinggi di Minahasa muncul minat yang luar biasa untuk
mempelajari budaya, agama dan masyarakat Minahasa. Hal ini nyata antara lain
dari banyaknya skripsi dan tesis mengenai Minahasa yang lahir di Fakultas
Teologi UKIT, di Seminari Pineleng dan di Fakultas Sastra UNSRAT pada tahun
1980-an. (Saya sendiri lulus dari Fakultas Teologi UKIT pada bulan Mei 1987
dengan skripsi tentang Watu Pinawetengan berjudul “Agama Rakyat dalam
Artikulasi Teologis”). Juga banyak dosen yang melanjutkan studi pada periode
ini mengambil tema sekitar agama dan kebudayaan serta situasi sosial masyarakat
Minahasa. Dari bidang studi teologi dan Kekristenan bisa disebutkan di sini dua
dari sekian banyak contoh: Richard A.D. Siwu, “Adat, Gospel and Pancasila: A
Study of the Minahasan Culture and Christianity in the Frame of Modernization
in Indonesian Society” (Tesis D.Min, Lexington Theological Seminary, 1985);
K.A. Kapahang-Kaunang, Perempuan: Pemahaman Teologis tentang Perempuan dalam
Konteks Budaya Minahasa (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993). Karangan yang
disebutkan terakhir ini semulanya adalah tesis M.Th. yang diselesaikan di UKIT
Tomohon pada tahun 1989. Di bidang pertanian, misalnya, ada penelitian dari
A.E. Wahongan-K, “Peranan Wanita dalam Pembangunan dan Kaitannya dengan Lembaga
Mapalus” (Tesis Master, Institut Pertanian Bogor, 1986).
Contoh-contoh ini sekedar menunjukkan luasnya samudra penelitian yang telah
dikerjakan di berbagai bidang mengenai Minahasa selama dekade 1980-an.
Masalahnya, keluasan ini tidak diikuti dengan proses dokumentasi dan
pengarsipan yang memadai, sehingga tidak ada sama sekali katalog yang bisa dijadikan
acuan untuk menemukan kekayaan tulisan dan penelitian ini. Barangkali dalam hal
ini para pakar dan peneliti yang tengah berkecimpung di dunia
akademik/universiter bisa membantu dalam upaya penyusunan katalog termaksud.
Usaha ini hendaknya bisa terkoordinasi dan terorganisasi dengan baik pula.
Selain itu, patut dicatat dua peristiwa besar yang turut menandai kebangkitan
Minahasalogi di era 1980-an, yaitu pelaksanaan Seminar Penentuan Hari Jadi
Daerah Minahasa di Tondano, 24-27 Mei 1982 dan seminar dalam rangka perayaan
Yubileum 50 tahun GMIM Bersinode di Manado, 8-10 Oktober 1984. Selain menjadi
ajang temu wicara para pakar, kedua acara ini juga meninggalkan banyak
monografi yang sangat bermanfaat bagi studi ke-Minahasa-an. Sayangnya, hanya
materi-materi seminar di Tondano yang didokumentasikan sebagai satu kumpulan
“Materi Penunjang”, sedangkan bahan-bahan seminar di Manado harus dicari pada
koleksi-koleksi pribadi. Kalau di seminar di Tondano ada pemakalah seperti H.M.
Taulu dan Noldy Ch. Kumaunang, dari seminar di Manado ada nama-nama seperti
E.K.M. Masinambow, O.E.Ch. Wuwungan dan Jan van Paassen. Juga karya-karya lepas
tokoh-tokoh ini perlu didata dan diarsipkan dengan baik, karena merupakan
bagian dari kekayaan studi Minahasalogi. Sebagaimana diketahui, sebagai hasil
“politis” dari seminar penentuan hari jadi daerah Minahasa itu, ditetapkanlah
tanggal 5 November 1428 sebagai hari jadi Minahasa. Sehingga, tepat pada
tanggal 5 November 1983, HUT Minahasa ke-555 dirayakan secara meriah. Penentuan
tanggal 5 November mempunyai arti simbolis dan merujuk pada tanggal wafatnya
Oom Sam Ratulangi. Tetapi mengapa tahun 1428 yang ditetapkan, sampai sekarang
belum jelas benar alasannya. Mungkin para pelaku sejarah yang terlibat pada
waktu itu boleh membantu dalam menjawab pertanyaan terbuka ini. Yang pasti,
antara proses seminar dan hasil “politis” penentuan hari jadi itu ada
kesenjangan historis dan analitis yang masih perlu dijembatani.
Masih di era 80-an, perlu juga disebut satu disertasi mengenai Minahasa yang
dipertahankan di Göteborg, Swedia oleh Wil Lundström-Burghoorn berjudul
Minahasa Civilization: A Tadition of Change (Göteborg: Acta Universitatis
Gothoburgensis, 1981). Satu studi anthropologis mengenai kebiasaan-kebiasaan
dan tradisi-tradisi yang dipraktekkan oleh masyarakat di Minahasa, termasuk
kajian mengenai sistem kekerabatan dan rites de passage mulai dari kelahiran
sampai kematian seseorang. Buku lain yang juga sangat penting dari dekade ini
adalah yang ditulis oleh Bert Supit berjudul Minahasa: Dari Amanat Watu
Pinawetengan Sampai Gelora Minawanua (Jakarta: Sinar Harapan, 1986). (Catatan:
Bert Supit penulis buku ini tidak identik dengan dokter Bert A. Supit di
Tomohon. Bert Supit ini adalah bekas perwira TNI-AD dan termasuk salah seorang
pemrakarsa berdirinya Perguruan Tinggi Manado, yang kemudian menjadi
Universitas Sam Ratulangi, dan sekarang tinggal di Jakarta). Buku karangan Bert
Supit bisa dikategorikan sebagai buku kajian sejarah Minahasa. Salah satu acuan
utama yang digunakan oleh Bert Supit adalah bukunya E.C. Godeè Molsbergen,
Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (Weltevreden: Landdrukkerij, 1928).
Bahkan kutipan lengkap naskah-naskah perjanjian antara orang Belanda dan orang
Minahasa pada tahun 1679, 1699 dan 1790 selengkapnya diambil dari buku
tersebut. Tetapi itu tidak berarti Bert Supit tidak berlaku kritis terhadap
buku tersebut. Melalui bukunya ini Bert Supit malah menunjukkan gejolak-gejolak
perlawanan terhadap Belanda yang pernah terjadi dalam sejarah Minahasa,
terutama dengan terjadinya Perang Tondano.
Melengkapi jelajah bibliografi tentang Minahasa di tahun 1980-an, bisa
ditambahkan di sini dua nama penulis beserta karangannya yang dipublikasi
secara nasional maupun internasional, yaitu: N.S. Kalangi, “Kebudayaan
Minahasa” dalam Koentjaraningrat, ed., Manusia dan Kebudayaan di Indonesia
(Jakarta: Didjaskara, 1981); Willem H. Makaliwe, “A preliminary note on
genealogy and intermarriage in the Minahasa regency, North Sulawesi” (BKI 137,
1981). Tulisan N.S. Kalangi lain yang juga terkenal berjudul “Orang Minahasa.
Beberapa Aspek Kemasyarakatan dan Kebudayaan” dalam Peninjau 4, 1977.
Beralih ke dasawarsa 1990-an. Sejauh pengamatan, sepanjang dekade 90-an
sedikitnya telah lahir empat disertasi (dua darinya telah dipublikasi sebagai
buku) tentang Minahasa yang ditulis oleh orang Eropa. Tahun 1990 Helmut
Buchholt menerbitkan buku berjudul Kirche, Kopra und Bürokraten:
Gesellschaftliche Entwicklung und strategisches Handeln in Nord Sulawesi /
Indonesien (Saabrücken: Verlag Breitenbach, 1990). Buchholt sendiri adalah
orang Jerman. Buku ini aslinya adalah disertasi. Promosi doktornya di
Universitas Bielefeld. Judulnya memang unik, karena mengkombinasikan gereja,
kopra dan kaum birokrat. Mengikuti pendekatan sosiologi pembangunan dalam
kerangka konsep strategische Gruppen, Buchholt meneliti peran sentral orang dan
daerah Minahasa dalam membangun wilayah Sulawesi Utara, terutama sejak era
politik kolonial Hindia-Belanda dengan proses transformasi ekonominya sampai
pada era pemerintahan Orde Baru dengan birokratisasinya.
Tahun 1993 ada dua disertasi yang dipertahankan di Negeri Belanda. Kedua
penulisnya berkebangsaan Belanda. Satu disertasi dikerjakan oleh Mieke Schouten
berjudul Minahasan Metamorphoses: Leadership and social mobility in a Southeast
Asian society, c. 1680-1983 (Disertasi Vrije Universiteit, Amsterdam, 1993).
Mieke Schouten menfokuskan studi antropologis-historisnya pada perubahan
kultural yang terjadi di Minahasa pada masa antara tahun 1680 dan 1983. Dengan
menggunakan istilah “metamorfosa” pada judulnya, Schouten membuktikan bahwa di
Minahasa, perubahan ekonomi, politik dan religius tetap diikuti oleh pola-pola
dari masa lampau. Praktik-praktik kekristenan, misalnya, tetap tidak terlepas
dari pola-pola ritual dan struktur agama primer. Selain itu, betapa pun
struktur birokratis negara modern mewarnai konstelasi politik, pola
kepemimpinan tradisional masih menguasai struktur desa.
Disertasi dari Mieke Schouten ini merupakan perpaduan menarik antara
dokumentasi dan analisis. Buku setebal 340 halaman ini bahkan bisa menjadi
dasar untuk banyak penelitian baru, misalnya mengenai konsep kekuasaan dalam
budaya-budaya di Minahasa atau mengenai perempuan Minahasa. Dalam hal studi
tentang Minahasa, Mieke Schouten memang bukan orang baru. Tesis MA-nya di Vrije
Universiteit, Amsterdam, pada tahun 1978 sudah mengambil tema perubahan posisi
kepala walak di Minahasa pada abad ke-19 (“De veranderende positie van het
walak-hoofdt in de Minahasa gedurende de negentiende eeuw”). Sejak itu Mieke
Schouten sebenarnya telah mulai memantapkan dirinya sebagai salah seorang nara
sumber mengenai Minahasa, terutama lewat tulisan-tulisannya. Ia termasuk salah
satu penulis asing yang sangat produktif menulis tentang Minahasa.
Disertasi lainnya ditulis oleh Menno Hekker berjudul Minahassers in Indonesië
en Nederland: migratie en cultuurverandering (Disertasi Universiteit van
Amsterdam, 1993). Dari judulnya saja sudah kelihatan arah penelitiannya adalah
mengenai perubahan kultural pada kaum migran Minahasa di Negeri Belanda. Menno
Hekker mengklasifikasi studinya sebagai ethnografi. Studinya sendiri merupakan
studi kasus terhadap satu kaum migran tertentu. Berdasarkan pendekatan
perubahan kebudayaan Menno Hekker lalu membuat perbandingan antara orang
Minahasa yang telah menetap di Negeri Belanda dengan mereka yang menetap di
tanah Minahasa. Perubahan kultural yang terjadi pada kaum migran Minahasa
disebutnya sebagai satu proses “folklorisering”. Proses ini terjadi akibat
perubahan konteks di mana kebudayaan Minahasa itu dihidupi. Artinya, konteks
asli budaya Minahasa telah diganti oleh konteks kehidupan sosial masyarakat
Belanda, yang berakibat pada menghilangnya sejumlah unsur budaya. Namun
demikian ada sejumlah kebiasaan dan unsur kultural yang terus dipelihara
seperti pengucapan syukur, kumpulan, kunci tahun baru, acara pohon terang,
maengket, kabasaran dan mapalus. Mapalus umumnya hanya berlangsung sebagai
prinsip resiprositas di antara warga Minahasa di Nederland.
Pada tahun 1996 KITLV di Leiden menerbitkan buku dari David E.F. Henley,
Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East
Indies (Leiden: KITLV, 1996). Dalam bentuknya yang belum direvisi, isi buku ini
sudah diajukan oleh penulisnya sebagai disertasi Ph.D. pada Australian National
University pada tahun 1992. David Henley sendiri berkebangsaan Inggris. Buku
ini pada hakekatnya meneliti perkembangan nasionalisme regional yang bertumbuh
di Minahasa pada zaman Hindia-Belanda hingga tahun 1942. Ia juga melakukan
analisis yang dalam tentang pengertian “bangsa Minahasa”. Baik perdebatan
politik dalam Minahasarad maupun sejarah kelahiran organisasi-organisasi
politik orang Minahasa turut terdokumentasi dalam karya ini.
Selain terbitnya disertasi-disertasi ini, ada dua buku kompilasi tulisan mengenai
Minahasa yang terbit dalam bahasa Inggris selama era 90-an. Dua buku ini
masing-masing adalah Helmut Buchholt dan Ulrich Mai, eds., Continuity, Change
and Aspirations: Social and Cultural Life in Minahasa, Indonesia (Singapore:
Institute of Southeast Asian Studies, 1994) dan Reimer Schefold, ed., Minahasa
Past and Present: Tradition and Transition in an Outer Island Region of
Indonesia (Leiden: Research School CNWS, 1995).
Buku pertama memuat sebelas tulisan dari berbagai penulis, di luar bagian introduksi,
yang sebenarnya mengisi tiga bagian buku ini. Bagian pertama, mencakup tiga
tulisan, menyentuh aspek-aspek sosial-historis dan kultural pembangunan di
Minahasa. Bagian kedua mengangkat secara khusus aspek politik lokal dan
diferensiasi sosial. Lima tulisan mengisi bagian ini. Sedangkan tiga tulisan
yang mengisi bagian ketiga berkaitan dengan aspek-aspek ideologis dan ekonomis
dari pembangunan wilayah. Sebagian besar isi buku ini merupakan tuangan hasil
kajian oleh lima peneliti Jerman dari Universitas Bielefeld. Penting dicatat,
sejak tahun 1980-an Universitas Bielefeld merupakan univeritas Jerman yang
banyak memberi perhatian pada penelitian-penelitian di Minahasa. Juga
hubungannya dengan pusat penelitian UNSRAT Manado sangat erat. Kemudian ada satu
kontribusi dari Mieke Schouten kalangan elit lama dan baru di Sonder. Dua
tulisan lainnya berasal dari para peneliti di UNSRAT. Satu tulisan mengenai
peranan perempuan Minahasa di pedesaan ditulis bersama oleh Wiesje Lalamentik,
Alex Ulaen dan Justus Inkiriwang. Satu tulisan lagi mengenai pola-pola
pemberdayaan dan peran tenaga kerja sektor non-pertanian di pedesaan Sulawesi
Utara dikerjakan oleh Lucky Sondakh.
Buku kedua berisi delapan artikel, di luar introduksi yang ditulis oleh editor
buku ini, mencakup berbagai tema yang masing-masiong berdiri sendiri. Ada
misalnya Mieke Schouten yang membahas soal mencari status di Minahasa, atau
Reimar Schefold dengan tema pencuri heroik (tentang Tumileng), atau David
Henley dengan analisis mengenai kartografi Minahasa dalam sejarah. Selain itu
ada juga tiga nama Indonesia di antara para penulis, yaitu Louise Gandhi
Lapian, Richard Leirissa dan Rili Djohani. Louise Gandhi-Lapian adalah dosen
pada Fakultas Hukum UI yang pada tahun 1993 meraih gelar doktor dengan disertasi
berjudul “Harmonisasi Hukum tentang Sahnya Perkawinan Kristen dan Hubungannya
dengan Harta Benda Perkawinan: Suatu Penelitian Lapangan di ‘Rondor’ Kawangkoan
Minahasa (Disertasi Ph.D. Universitas Indonesia, Jakarta, 1993). Richard
Leirissa adalah dekan Fakultas Sejarah UI. Pada tahun 1990 ia menulis sebuah
buku berjudul PRRI/Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis
(Jakarta: Grafitipres, 1990).
Di bagian introduksi buku yang dieditnya ini, Reimar Schefold antara lain
menulis: “The various contributions give voice to a new interest in the culture
of Minahasa, which after a long period of considerable silence has been
gradually re-emerging in recent years.” Bagaikan hembusan angin segar mendengar
lahirnya minat baru terhadap budaya Minahasa ini. Sayangnya, buku kompilasi
tulisan mengenai Minahasa seperti ini tidak banyak terbit di Indonesia. Pada
tahun 1993, selama cuti pulang kampung di Tomohon, saya bersama Dr. R.A.D. Siwu
coba mendirikan lembaga studi dan penerbit dengan nama Lembaga Telaah Agama dan
Kebudayaan (LETAK) dan sejauh ini telah berhasil menerbitkan beberapa buku, di
antaranya: David H. Tulaar, ed., Opoisme: Teologi Orang Minahasa (Tomohon:
LETAK, 1993) dan David H. Tulaar, ed., Merunding-rundingkan Kerja Selamat: Buku
Penghormatan Hari Jadi ke-60 Prof. Dr. W.A. Roeroe (Tomohon: LETAK, 1993). Buku
pertama merupakan dokumentasi satu proses diskusi bertemakan “opoisme” yang
berlangsung lewat korespondensi tulisan maupun lewat seminar sejak tahun 1990
sampai 1993. Buku kedua adalah Festschrift untuk Pdt. W.A. Roeroe dan
mengangkat tema-tema seperti pembangunan pedesaan, perempuan, gereja dan
teologi di Minahasa.