Kamis, 30 Maret 2017

C. Tiga Dekade Kemudian: 1970-1999

Pada pertengahan tahun 1970-an ada program kerjasama antara Lembaga Ilmu Pngetahuan Indonesia (LIPI) dengan Koninklijk Instituut voor Land-, Taal- en Volkenkunde (KITLV) untuk menerbitkan seri terjemahan karangan-karangan Belanda ke dalam bahasa Indonesia. Panitianya diketuai oleh Koentjaraningrat, seorang guru besar anthropologi dari Universitas Indonesia, Jakarta. Sayangnya, selama program ini berlangsung hanya dua karangan dari seorang penulis Belanda, yaitu L. Adam, mengenai Minahasa yang sempat diterjemahkan. Dua karangan itu masing-masing terbit dengan judul Pemerintahan di Minahasa (Jakarta: Bhratara, 1975) dengan kata pengantar oleh F.S. Watuseke dan Adat Istiadat Sukubangsa Minahasa (Jakarta: Bhratara, 1976) dengan kata pengantar oleh G.M.A. Inkiriwang. Konon, masalah dana menghentikan gerak langkah program ini. Satu hal yang patut disayangkan. Edisi asli berbahasa Belanda kedua karangan tersebut sudah terbit dalam BKI 81 pada tahun 1925 dalam seri tulisan bertema “Uit en over de Minahasa”. Dalam serial ini terdapat dua tulisan mengenai misi dan gereja di Minahasa, masing-masing oleh J.W. Gunning, “De protestantsche zending in de Minahasa” (BKI 80, 1924) dan oleh A.J. van Aernsbergen, “De Katholieke kerk en hare missie in de Minahasa” (BKI 81, 1925). Selain itu pula, masih dalam serial “Uit en over Minahasa”, ada satu tulisan mengenai bahasa-bahasa di Minahasa oleh N. Adriani berjudul “De Minahasische talen” (BKI 81, 1925).



Dekade 1980-an merupakan dekade kebangkitan Minahasalogi. Di lingkungan universitas dan sekolah tinggi di Minahasa muncul minat yang luar biasa untuk mempelajari budaya, agama dan masyarakat Minahasa. Hal ini nyata antara lain dari banyaknya skripsi dan tesis mengenai Minahasa yang lahir di Fakultas Teologi UKIT, di Seminari Pineleng dan di Fakultas Sastra UNSRAT pada tahun 1980-an. (Saya sendiri lulus dari Fakultas Teologi UKIT pada bulan Mei 1987 dengan skripsi tentang Watu Pinawetengan berjudul “Agama Rakyat dalam Artikulasi Teologis”). Juga banyak dosen yang melanjutkan studi pada periode ini mengambil tema sekitar agama dan kebudayaan serta situasi sosial masyarakat Minahasa. Dari bidang studi teologi dan Kekristenan bisa disebutkan di sini dua dari sekian banyak contoh: Richard A.D. Siwu, “Adat, Gospel and Pancasila: A Study of the Minahasan Culture and Christianity in the Frame of Modernization in Indonesian Society” (Tesis D.Min, Lexington Theological Seminary, 1985); K.A. Kapahang-Kaunang, Perempuan: Pemahaman Teologis tentang Perempuan dalam Konteks Budaya Minahasa (Jakarta: BPK Gunung Mulia, 1993). Karangan yang disebutkan terakhir ini semulanya adalah tesis M.Th. yang diselesaikan di UKIT Tomohon pada tahun 1989. Di bidang pertanian, misalnya, ada penelitian dari A.E. Wahongan-K, “Peranan Wanita dalam Pembangunan dan Kaitannya dengan Lembaga Mapalus” (Tesis Master, Institut Pertanian Bogor, 1986).


Contoh-contoh ini sekedar menunjukkan luasnya samudra penelitian yang telah dikerjakan di berbagai bidang mengenai Minahasa selama dekade 1980-an. Masalahnya, keluasan ini tidak diikuti dengan proses dokumentasi dan pengarsipan yang memadai, sehingga tidak ada sama sekali katalog yang bisa dijadikan acuan untuk menemukan kekayaan tulisan dan penelitian ini. Barangkali dalam hal ini para pakar dan peneliti yang tengah berkecimpung di dunia akademik/universiter bisa membantu dalam upaya penyusunan katalog termaksud. Usaha ini hendaknya bisa terkoordinasi dan terorganisasi dengan baik pula.



Selain itu, patut dicatat dua peristiwa besar yang turut menandai kebangkitan Minahasalogi di era 1980-an, yaitu pelaksanaan Seminar Penentuan Hari Jadi Daerah Minahasa di Tondano, 24-27 Mei 1982 dan seminar dalam rangka perayaan Yubileum 50 tahun GMIM Bersinode di Manado, 8-10 Oktober 1984. Selain menjadi ajang temu wicara para pakar, kedua acara ini juga meninggalkan banyak monografi yang sangat bermanfaat bagi studi ke-Minahasa-an. Sayangnya, hanya materi-materi seminar di Tondano yang didokumentasikan sebagai satu kumpulan “Materi Penunjang”, sedangkan bahan-bahan seminar di Manado harus dicari pada koleksi-koleksi pribadi. Kalau di seminar di Tondano ada pemakalah seperti H.M. Taulu dan Noldy Ch. Kumaunang, dari seminar di Manado ada nama-nama seperti E.K.M. Masinambow, O.E.Ch. Wuwungan dan Jan van Paassen. Juga karya-karya lepas tokoh-tokoh ini perlu didata dan diarsipkan dengan baik, karena merupakan bagian dari kekayaan studi Minahasalogi. Sebagaimana diketahui, sebagai hasil “politis” dari seminar penentuan hari jadi daerah Minahasa itu, ditetapkanlah tanggal 5 November 1428 sebagai hari jadi Minahasa. Sehingga, tepat pada tanggal 5 November 1983, HUT Minahasa ke-555 dirayakan secara meriah. Penentuan tanggal 5 November mempunyai arti simbolis dan merujuk pada tanggal wafatnya Oom Sam Ratulangi. Tetapi mengapa tahun 1428 yang ditetapkan, sampai sekarang belum jelas benar alasannya. Mungkin para pelaku sejarah yang terlibat pada waktu itu boleh membantu dalam menjawab pertanyaan terbuka ini. Yang pasti, antara proses seminar dan hasil “politis” penentuan hari jadi itu ada kesenjangan historis dan analitis yang masih perlu dijembatani.



Masih di era 80-an, perlu juga disebut satu disertasi mengenai Minahasa yang dipertahankan di Göteborg, Swedia oleh Wil Lundström-Burghoorn berjudul Minahasa Civilization: A Tadition of Change (Göteborg: Acta Universitatis Gothoburgensis, 1981). Satu studi anthropologis mengenai kebiasaan-kebiasaan dan tradisi-tradisi yang dipraktekkan oleh masyarakat di Minahasa, termasuk kajian mengenai sistem kekerabatan dan rites de passage mulai dari kelahiran sampai kematian seseorang. Buku lain yang juga sangat penting dari dekade ini adalah yang ditulis oleh Bert Supit berjudul Minahasa: Dari Amanat Watu Pinawetengan Sampai Gelora Minawanua (Jakarta: Sinar Harapan, 1986). (Catatan: Bert Supit penulis buku ini tidak identik dengan dokter Bert A. Supit di Tomohon. Bert Supit ini adalah bekas perwira TNI-AD dan termasuk salah seorang pemrakarsa berdirinya Perguruan Tinggi Manado, yang kemudian menjadi Universitas Sam Ratulangi, dan sekarang tinggal di Jakarta). Buku karangan Bert Supit bisa dikategorikan sebagai buku kajian sejarah Minahasa. Salah satu acuan utama yang digunakan oleh Bert Supit adalah bukunya E.C. Godeè Molsbergen, Geschiedenis van de Minahassa tot 1829 (Weltevreden: Landdrukkerij, 1928). Bahkan kutipan lengkap naskah-naskah perjanjian antara orang Belanda dan orang Minahasa pada tahun 1679, 1699 dan 1790 selengkapnya diambil dari buku tersebut. Tetapi itu tidak berarti Bert Supit tidak berlaku kritis terhadap buku tersebut. Melalui bukunya ini Bert Supit malah menunjukkan gejolak-gejolak perlawanan terhadap Belanda yang pernah terjadi dalam sejarah Minahasa, terutama dengan terjadinya Perang Tondano.



Melengkapi jelajah bibliografi tentang Minahasa di tahun 1980-an, bisa ditambahkan di sini dua nama penulis beserta karangannya yang dipublikasi secara nasional maupun internasional, yaitu: N.S. Kalangi, “Kebudayaan Minahasa” dalam Koentjaraningrat, ed., Manusia dan Kebudayaan di Indonesia (Jakarta: Didjaskara, 1981); Willem H. Makaliwe, “A preliminary note on genealogy and intermarriage in the Minahasa regency, North Sulawesi” (BKI 137, 1981). Tulisan N.S. Kalangi lain yang juga terkenal berjudul “Orang Minahasa. Beberapa Aspek Kemasyarakatan dan Kebudayaan” dalam Peninjau 4, 1977.



Beralih ke dasawarsa 1990-an. Sejauh pengamatan, sepanjang dekade 90-an sedikitnya telah lahir empat disertasi (dua darinya telah dipublikasi sebagai buku) tentang Minahasa yang ditulis oleh orang Eropa. Tahun 1990 Helmut Buchholt menerbitkan buku berjudul Kirche, Kopra und Bürokraten: Gesellschaftliche Entwicklung und strategisches Handeln in Nord Sulawesi / Indonesien (Saabrücken: Verlag Breitenbach, 1990). Buchholt sendiri adalah orang Jerman. Buku ini aslinya adalah disertasi. Promosi doktornya di Universitas Bielefeld. Judulnya memang unik, karena mengkombinasikan gereja, kopra dan kaum birokrat. Mengikuti pendekatan sosiologi pembangunan dalam kerangka konsep strategische Gruppen, Buchholt meneliti peran sentral orang dan daerah Minahasa dalam membangun wilayah Sulawesi Utara, terutama sejak era politik kolonial Hindia-Belanda dengan proses transformasi ekonominya sampai pada era pemerintahan Orde Baru dengan birokratisasinya.



Tahun 1993 ada dua disertasi yang dipertahankan di Negeri Belanda. Kedua penulisnya berkebangsaan Belanda. Satu disertasi dikerjakan oleh Mieke Schouten berjudul Minahasan Metamorphoses: Leadership and social mobility in a Southeast Asian society, c. 1680-1983 (Disertasi Vrije Universiteit, Amsterdam, 1993). Mieke Schouten menfokuskan studi antropologis-historisnya pada perubahan kultural yang terjadi di Minahasa pada masa antara tahun 1680 dan 1983. Dengan menggunakan istilah “metamorfosa” pada judulnya, Schouten membuktikan bahwa di Minahasa, perubahan ekonomi, politik dan religius tetap diikuti oleh pola-pola dari masa lampau. Praktik-praktik kekristenan, misalnya, tetap tidak terlepas dari pola-pola ritual dan struktur agama primer. Selain itu, betapa pun struktur birokratis negara modern mewarnai konstelasi politik, pola kepemimpinan tradisional masih menguasai struktur desa.



Disertasi dari Mieke Schouten ini merupakan perpaduan menarik antara dokumentasi dan analisis. Buku setebal 340 halaman ini bahkan bisa menjadi dasar untuk banyak penelitian baru, misalnya mengenai konsep kekuasaan dalam budaya-budaya di Minahasa atau mengenai perempuan Minahasa. Dalam hal studi tentang Minahasa, Mieke Schouten memang bukan orang baru. Tesis MA-nya di Vrije Universiteit, Amsterdam, pada tahun 1978 sudah mengambil tema perubahan posisi kepala walak di Minahasa pada abad ke-19 (“De veranderende positie van het walak-hoofdt in de Minahasa gedurende de negentiende eeuw”). Sejak itu Mieke Schouten sebenarnya telah mulai memantapkan dirinya sebagai salah seorang nara sumber mengenai Minahasa, terutama lewat tulisan-tulisannya. Ia termasuk salah satu penulis asing yang sangat produktif menulis tentang Minahasa.



Disertasi lainnya ditulis oleh Menno Hekker berjudul Minahassers in Indonesië en Nederland: migratie en cultuurverandering (Disertasi Universiteit van Amsterdam, 1993). Dari judulnya saja sudah kelihatan arah penelitiannya adalah mengenai perubahan kultural pada kaum migran Minahasa di Negeri Belanda. Menno Hekker mengklasifikasi studinya sebagai ethnografi. Studinya sendiri merupakan studi kasus terhadap satu kaum migran tertentu. Berdasarkan pendekatan perubahan kebudayaan Menno Hekker lalu membuat perbandingan antara orang Minahasa yang telah menetap di Negeri Belanda dengan mereka yang menetap di tanah Minahasa. Perubahan kultural yang terjadi pada kaum migran Minahasa disebutnya sebagai satu proses “folklorisering”. Proses ini terjadi akibat perubahan konteks di mana kebudayaan Minahasa itu dihidupi. Artinya, konteks asli budaya Minahasa telah diganti oleh konteks kehidupan sosial masyarakat Belanda, yang berakibat pada menghilangnya sejumlah unsur budaya. Namun demikian ada sejumlah kebiasaan dan unsur kultural yang terus dipelihara seperti pengucapan syukur, kumpulan, kunci tahun baru, acara pohon terang, maengket, kabasaran dan mapalus. Mapalus umumnya hanya berlangsung sebagai prinsip resiprositas di antara warga Minahasa di Nederland.


Pada tahun 1996 KITLV di Leiden menerbitkan buku dari David E.F. Henley, Nationalism and Regionalism in a Colonial Context: Minahasa in the Dutch East Indies (Leiden: KITLV, 1996). Dalam bentuknya yang belum direvisi, isi buku ini sudah diajukan oleh penulisnya sebagai disertasi Ph.D. pada Australian National University pada tahun 1992. David Henley sendiri berkebangsaan Inggris. Buku ini pada hakekatnya meneliti perkembangan nasionalisme regional yang bertumbuh di Minahasa pada zaman Hindia-Belanda hingga tahun 1942. Ia juga melakukan analisis yang dalam tentang pengertian “bangsa Minahasa”. Baik perdebatan politik dalam Minahasarad maupun sejarah kelahiran organisasi-organisasi politik orang Minahasa turut terdokumentasi dalam karya ini.
Selain terbitnya disertasi-disertasi ini, ada dua buku kompilasi tulisan mengenai Minahasa yang terbit dalam bahasa Inggris selama era 90-an. Dua buku ini masing-masing adalah Helmut Buchholt dan Ulrich Mai, eds., Continuity, Change and Aspirations: Social and Cultural Life in Minahasa, Indonesia (Singapore: Institute of Southeast Asian Studies, 1994) dan Reimer Schefold, ed., Minahasa Past and Present: Tradition and Transition in an Outer Island Region of Indonesia (Leiden: Research School CNWS, 1995).



Buku pertama memuat sebelas tulisan dari berbagai penulis, di luar bagian introduksi, yang sebenarnya mengisi tiga bagian buku ini. Bagian pertama, mencakup tiga tulisan, menyentuh aspek-aspek sosial-historis dan kultural pembangunan di Minahasa. Bagian kedua mengangkat secara khusus aspek politik lokal dan diferensiasi sosial. Lima tulisan mengisi bagian ini. Sedangkan tiga tulisan yang mengisi bagian ketiga berkaitan dengan aspek-aspek ideologis dan ekonomis dari pembangunan wilayah. Sebagian besar isi buku ini merupakan tuangan hasil kajian oleh lima peneliti Jerman dari Universitas Bielefeld. Penting dicatat, sejak tahun 1980-an Universitas Bielefeld merupakan univeritas Jerman yang banyak memberi perhatian pada penelitian-penelitian di Minahasa. Juga hubungannya dengan pusat penelitian UNSRAT Manado sangat erat. Kemudian ada satu kontribusi dari Mieke Schouten kalangan elit lama dan baru di Sonder. Dua tulisan lainnya berasal dari para peneliti di UNSRAT. Satu tulisan mengenai peranan perempuan Minahasa di pedesaan ditulis bersama oleh Wiesje Lalamentik, Alex Ulaen dan Justus Inkiriwang. Satu tulisan lagi mengenai pola-pola pemberdayaan dan peran tenaga kerja sektor non-pertanian di pedesaan Sulawesi Utara dikerjakan oleh Lucky Sondakh.



Buku kedua berisi delapan artikel, di luar introduksi yang ditulis oleh editor buku ini, mencakup berbagai tema yang masing-masiong berdiri sendiri. Ada misalnya Mieke Schouten yang membahas soal mencari status di Minahasa, atau Reimar Schefold dengan tema pencuri heroik (tentang Tumileng), atau David Henley dengan analisis mengenai kartografi Minahasa dalam sejarah. Selain itu ada juga tiga nama Indonesia di antara para penulis, yaitu Louise Gandhi Lapian, Richard Leirissa dan Rili Djohani. Louise Gandhi-Lapian adalah dosen pada Fakultas Hukum UI yang pada tahun 1993 meraih gelar doktor dengan disertasi berjudul “Harmonisasi Hukum tentang Sahnya Perkawinan Kristen dan Hubungannya dengan Harta Benda Perkawinan: Suatu Penelitian Lapangan di ‘Rondor’ Kawangkoan Minahasa (Disertasi Ph.D. Universitas Indonesia, Jakarta, 1993). Richard Leirissa adalah dekan Fakultas Sejarah UI. Pada tahun 1990 ia menulis sebuah buku berjudul PRRI/Permesta: Strategi Membangun Indonesia Tanpa Komunis (Jakarta: Grafitipres, 1990).



Di bagian introduksi buku yang dieditnya ini, Reimar Schefold antara lain menulis: “The various contributions give voice to a new interest in the culture of Minahasa, which after a long period of considerable silence has been gradually re-emerging in recent years.” Bagaikan hembusan angin segar mendengar lahirnya minat baru terhadap budaya Minahasa ini. Sayangnya, buku kompilasi tulisan mengenai Minahasa seperti ini tidak banyak terbit di Indonesia. Pada tahun 1993, selama cuti pulang kampung di Tomohon, saya bersama Dr. R.A.D. Siwu coba mendirikan lembaga studi dan penerbit dengan nama Lembaga Telaah Agama dan Kebudayaan (LETAK) dan sejauh ini telah berhasil menerbitkan beberapa buku, di antaranya: David H. Tulaar, ed., Opoisme: Teologi Orang Minahasa (Tomohon: LETAK, 1993) dan David H. Tulaar, ed., Merunding-rundingkan Kerja Selamat: Buku Penghormatan Hari Jadi ke-60 Prof. Dr. W.A. Roeroe (Tomohon: LETAK, 1993). Buku pertama merupakan dokumentasi satu proses diskusi bertemakan “opoisme” yang berlangsung lewat korespondensi tulisan maupun lewat seminar sejak tahun 1990 sampai 1993. Buku kedua adalah Festschrift untuk Pdt. W.A. Roeroe dan mengangkat tema-tema seperti pembangunan pedesaan, perempuan, gereja dan teologi di Minahasa.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar